(Catatan kecil menyambut tahun ajaran baru 2011/2012)
Oleh : Akmal nur*
Bulan ini dalam dunia pendidikan disebut bulan ‘sibuk’ .Setelah sebelumnya menamatkan peserta didiknya, sekolah kembali menerima siswa baru dari PAUD sampai perguruan tinggi atau lebih tepatnya kondisi ini disebut tahun ajaran baru. Bukan hanya sekolah atau kampus yang sibuk tetapi juga masyarakat khususnya yang memiliki anak usia sekolah. Beberapa siswa dan orang tua akan sibuk mempersiapkan anak-anaknya baik itu yang akan melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun yang akan naik kelas. Sudah jelas kesibukan ini akan berkaitan dengan faktor ekonomi. Orang tua akan kembali bekerja keras dalam membiayai sekolah anaknya yang tidak kunjung turun.
Sebahagian masyarakat sudah mendiskusikan dengan anaknya kemana mereka kelak akan melanjutkan pendidikan. Pilihannya sudah tentu disekolah negeri atau disekolah swasta atau apakah sekolah berlabel standar nasional atau standar internasional dan boleh juga disekolah tidak berstandar. Bagi masyarakat kurang mampu jangankan memimpikan sekolah berstandar, sekolah yang tidak berstandarpun kelihatannya sangat sulit. Sekolah yang penulis maksud disini bukan sekedar sebagai wadah tetapi juga sebagai sebuah sistem.
Lalu pertanyaannya kemudian untuk apa sebenarnya bersekolah. Begitu pentingkah sekolah sehingga anak-anak harus menghabiskan setengah waktunya di sekolah dan yang lebih penting menghabiskan banyak biaya. Bukankah asal mula adanya sekolah di Yunani di maknai sebagai waktu luang saja, dimana anak-anak pada saat itu bersekolah hanya untuk menghabiskan waktu luangnya kemudian mengalami pelembagaan sebagai wadah sistemik dalam melakukan regenerasi di suatu bangsa.
Begitu banyak sekolah di negeri ini telah kehilangan orientasinya untuk mencetak generasi unggul, malah yang muncul kemudian adalah begitu banyaknya masalah-masalah baru dalam lingkup sekolah. Munculnya berbagai kritik terhadap sekolah dari golongan anti sekolah seakan memberikan pembenaran bahwa memang ada yang salah dari proses yang namanya bersekolah. Mulai dari sistem pembelajarannya yang tidak mendidik sampai beberapa fakta dari alumni yang sangat kontradiktif. Ahli hukum yang suka melanggar hukum. Ahli logika yang tidak dapat berfikir logis, ahli sosiolog yang tidak dapat bersosialisasi. Serta berbagai ahli yang tercetak yang tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi tantangan sosial yang ada.
Penulis tidak akan sepenuhnya menyalahkan gambaran tersebut karena memang sebahagian sekolah masih seperti itu begitupula penulis tidak akan membenarkan sepenuhnya dengan alasan yang sama bahwa banyak juga sekolah telah melahirkan generasi-generasi yang unggul walaupun jumlahnya sedikit. Namun ketika kenyataan tersebut benar-benar terjadi lalu apa sebenarnya orientasi masyarakat dari sekolah.
Pernyataan yang umum sering terdengar ditengah masyarakat adalah agar kelak anak-anak negeri ini dapat menjadi pegawai, jika demikian maka orientasi tersebut tidaklah seluruhnya benar sebuah fakta menunjukkan Dari sekitar 105 juta tenaga kerja yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD! Pemilik diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang.(kompas.com) belum lagi ditambah jumlah pengangguran yang diploma atau sarjana Sekarang saja ada sekitar 750.000 belum ditambah dengan angka putus sekolah dari SD sampai SMA yang sementara menganggur.
Paul Krugman, penulis The New York Times yang, dalam tulisannya pada 6 Maret 2011, menegaskan fakta-fakta di Amerika Serikat bahwa posisi golongan kerah putih di level menengah— yang selama beberapa dekade dikuasai para sarjana dan bergaji tinggi--, kini digantikan peranti lunak komputer. Lowongan kerja untuk level ini tidak tumbuh, malah terus menciut. Sebaliknya, lapangan kerja untuk yang bergaji rendah, dengan jenis kerja manual yang belum bisa digantikan komputer, seperti para petugas pengantaran dan kebersihan, terus tumbuh.(kompas.com). Hal ini juga tidak menutup kemungkinan akan terjadi dinegeri ini dimana jumlah alumni sekolah semakin banyak tetapi ketersediaan lapangan kerja semakin sedikit, dan indikasi tersebut sudah mulai terlihat dari banyaknya angka pengangguran.
Begitu banyak fakta-fakta terebut kembali mereduksi makna sekolah sebagai sebuah instutitusi yang diharapkan menjadi miniatur kehidupan sosial yang dapat menempa anak-anak bangsa agar mampu memecahkan masalahnya dalam kehidupannya.
Revitalisasi sekolah
Kalau masyarakat negeri ini tidak ingin membenarkan fakta-fakta yang di ungkapkan para kritikus anti sekolah yang hanya melahirkan generasi penganggur. Maka saatnya sekarang sekolah harus kembali menunjukkan eksistensinya sebagai institusi yang dapat membawa perubahan bangsa ini.Yang bukan hanya alumni yang siap kerja tetapi juga siap menciptakan lapangan kerja. Atau dengan kata lain dibutuhkan sebuah kompetensi lain diluar dari kurikulum yang diajarkan diantaranya kreatifitas dan kemampuan bersosial.
Dalam bahasa yang sederhana, kreativitas dapat diartikan sebagai suatu proses mental yang dapat melahirkan gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru. Menurut National Advisory Committees UK (1999), bahwa kreativitas memiliki empat karakteristik, yaitu: (1) berfikir dan bertindak secara imajinatif, (2) seluruh aktivitas imajinatif itu memiliki tujuan yang jelas; (3) melalui suatu proses yang dapat melahirkan sesuatu yang orisinal; dan (4) hasilnya harus dapat memberikan nilai tambah. Sedangkan kemampuan sosial secara sederhana diartikan sebagai keadaan seseorang dapat tumbuh dan berkembang dalam kondisi sosial manapun serta dapat merespon secara positif kondisi sosial yang dialaminya.
Oleh karena itu kreatifitas dan kemampuan sosial ini sangat penting di tumbuhkan di lingkup sekolah agar kehidupan sekolah memiliki relevansi terhadap kehidupan sosial penuh dengan tantangan. Alumni sekolah kedepan bukan hanya di bekali dengan kompetensi yang sifatnya kognitif, afektif maupun psikomotorik dalam keahlian tetapi lebih jauh dari itu harus didorong mencapai kretifitas yang tinggi serta kemanpuan bersosial yang kuat.
Menumbuhkan kretifitas di sekolah harus dimulai dari pembelajaran yang kreatif yang melahirkan belajar untuk kreatif, begitu juga harus didukung oleh pemimpin sekolah yang kreatif serta sistem sekolah yang menyediakan ruang-ruang bagi seseorang untuk mengembangkan kretifitasnya.
Kemampuan sosial bukan hanya harus dimiliki oleh seorang guru bersertifikasi tetapi juga harus dibangun dari lingkup siswa sebagai pelaku. Menciptakan iklim yang demokratis disekolah dengan tidak lagi memposisikan siswa sebagai subordinary dari sistem menajerial disekolah, tetapi menjadi teman dalam pembelajaran. Begitupula semua sistem kebijakan sekolah tidak memberikan contoh buruk terhadap perkembangan demokrasi disekolah.
Dua komponen diatas merupakan sebahagian kecil dari konsep keterlambatan untuk sadar dalam membentuk karakter bangsa sebagaimana dicanangkan dalam slogam ‘pendidikan karakter’ oleh pemerintah. Akan tetapi walaupun terlambat, proses penerjemahan tersebut harus mulai sedikit demi sedikit dilakukan agar menghasilkan sebuah makna yang dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan.
Bangsa ini berharap lahirnya generasi- generasi bangsa yang berkarakter dari dunia pendidikan atau sekolah yang berkaraterpula. Semoga dengan adanya karakter ini para anti sekolah maupun masyarakat tidak memandang lagi sekolah sebagai tempat dicetaknya para penganggur dengan biaya yang tinggi. Tetapi sekolah sebagai tempat anak-anak menghabiskan waktu luangnya selama delapan jam dalam menempa dirinya menjadi manusia yang siap menghadapi tantangan jaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar