Rabu, 28 Desember 2011

PUASA DAN KESALEHAN SOSIAL

Oleh : Akmal Nur*

Beberapa hari lagi ummat islam akan menjalani ibadah puasa pada bulan suci Ramadhan. Sebagai upaya membentuk pribadi yang bertaqwa kepada Allah SWT. Sebagaimana diperintahkan dalam kitab suci yang artinya “Hai orang – orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa (QS 2 : 183)”. Benarkah puasa natinya yang akan dijalani ini memberikan perubahan pada semua sikap dan tingkah kita menuju ketaqwaan terhadap Allah SWT ataukah sebaliknya. Hanya setiap individulah yang akan menjawabnya.

Dalam kehidupan sosial, bulan puasa sepertinya merupakan bulan yang benar-benar menjadi ujian sebahagian besar ummat muslim di negeri ini. Beberapa persoalan kemanusian dan kebangsaan yang tidak kunjung selesai menjadi tantangan tersendiri untuk menumbuhkan harapan tumbuhnya rasa kepedulian untuk membantu baik secara moril maupun materil sebagai bentuk upaya membentuk kesalehan sosial dan wujud ketaqwaan terhadap Allah SWT.

Sebagaiamana pada bulan puasa sebelumnya juga bulan ini akan dijalani dengan masa – masa sulit bagi kehidupan masyarakat bangsa ini. Dimana harga – harga sembako kembali sudah mulai terasa melonjak naik seperti cabe dan beras serta kebutuhan pokok lainnya. Beberapa saudara – saudara muslim lainnya yang berada dibawa garis kemiskinan tidak mampu menjangkau kebutuhan pokok tersebut. Oleh sebab itu dibutuhkan kerelaan setiap individu di bulan yang penuh berkah ini sebagai momentum awal untuk membantu menyisihkan sebahagian harta untuk mereka. Sebab sebahagian harta orang kaya terdapat hak atas milik orang miskin, begitulah agama islam mengaturnya.

Pelaksanaan puasa juga bertepatan dengan hari kemerdekaan bangsa ini. Dengan momentum ini juga bangsa harus lebih banyak merefleksikan diri , sejauhmana implementasi kesyukuran akan kemerdekaan yang tertuang dalam Pembukaan UUD memberi dampak pada kesejahteraan masyarakat. Pengambil kebijakan dapat lebih meningkatkan kepeduliannya terhadap masyarakatnya pada bulan ini sebagai bentuk kewajiban sekaligus ibadah kepada Allah SWT. Begitupula masyarakat dapat menjadikan bulan puasa sebagai momentum untuk meningkatkan partisipasinya dalam membangun bangsa ini kerarah yang lebih baik.

Sudah saatnya bulan puasa bukan hanya menjadi bulan ritual spritualitas yang terlewati begitu saja. Tetapi menjadi ibadah yang memiliki implikasi peubahan sosial kearah yang lebih baik. Semua itu dicapai dari adanya transformasi sosial yang lahir dari pembentukan pribadi yang saleh, baik itu saleh secara individu maupun saleh secara sosial. Inilah sebuah momen untuk merevitalisasi kembali seluruh tindakan dalam menjalani kehidupan berbangsa. Peran – peran sosial perlu di tingkatkan kembali untuk memecah sebuah kebuntuan dalam mengatasi persoalan bangsa ini. Sudah terlalu lama bangsa ini menjerit dari berbagai timpaan masalah – masalah sosial yang tidak terselesaikan. Mengetuk nurani masing-masing individu untuk berbuat pada bulan ini merupakan salahsatu harapan.

Kesalehan sosial

Sebagaimana diketahui bahwa bulan puasa adalah bulan dengan berbagai keistemewaan dan sebagai proses pembentukan insan manusia yang bertaqwa dimana implementasinya tercermin dari pribadi yang saleh, baik saleh individual maupun saleh secara sosial. Kesalehan individu di indikasikan sebagai bentuk ibadah yang berhubungan langsung kepada Allah SWT sedangkan kesalehan sosial terlihat dari sejauhmana hubungan manusia dengan manusia lainnya.

Kedua kesalehan tersebut tidak dapat dipisahkan karena merupakan dua cerminan jiwa dalam satu bingkai ketaqwaan. Manusia yang saleh secara individual tetapi tidak dibarengi dengan kesalehan sosial tidaklah berarti apa-apa, begitupula sebaliknya. Hampir semua ibadah yang berhubungan kepada Allah SWT memiliki relevansi terhadap proses pembentukan pribadi yang saleh secara sosial.

Ibadah Puasa merupakan salah satu contoh perintah Allah SWT yang menjadi proses pembentukan pribadi yang peduli terhadap sesama. Dimana puasa mengajarkan rasa lapar dan dahaga seperti yang dirasakan saudara-saudara muslim yang kurang mampu memenuhi kebutuhan makan dan minumnya. Sehingga tumbuh rasa kepedulian untuk saling membantu dan memberi kepada orang yang membutuhkan. Bulan Puasa juga adalah bulan dimana diperintahkan untuk mengeluarkan zakat dan sedekah kepada yang berhak. Begitu sempurnanya sistem yang terdapat dalam bulan puasa menjadi peluang bagi ummat yang menjalaninya untuk mencapai pribadi yang bertaqwa.

Akan tetapi bagaimanapun sistemnya ketika dalam diri individu sendiri tidak mempunyai kemauan untuk menjalaninya dengan baik maka tidak akan berarti apa-apa. Oleh karena itu dibutuhkan niat dari sekarang dan kemauan untuk menjalaninya. Harapan akan munculnya kepedulian sosial dengan merasakan apa yang telah dirasakan oleh orang-orang yang kurang beruntung dapat mengembalikan kesadaran bahwa harta yang kita miliki adalah titipan Allah SWT dan sebahagian perlu disalurkan kepada orang yang berhak. Sehingga terjadi keseimbangan tatanan kehidupan sosial ini

Mengharapkan hilangnya kemiskinan juga adalah sesuatu hal yang memiliki sedikit kemungkinan, tetapi memelihara kemiskinan dengan membiarkan yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin dimiskinkan juga adalah hal yang kurang tepat. Tetapi yang harus diusahakan adalah tidak terlalu adanya jurang perantara yang jauh antara miskin dan kaya. Dengan menumbuhkan kepedulian sosial inilah sebuah harapan dapat mencapainya. Begitupula harus disertai dengan peran regulasi pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakannya. Bukannya dengan melarang untuk bersedekah di jalan dengan menguluarakan beberapa PERDA.

Kepedulian sosial tercipta dari pribadi yang memiliki kesalehan sosial, dan kesalehan terbentuk dari upaya dalam melatih pada momen-momen yang ada. Salahsatunya melalui bulan ramadhan, dimana segala aktifitas puasa pada bulan ini semata – mata untuk mendapat ridho dari Allah SWT.

Semoga dengan dijalaninya bulan yang penuh rahmat ini kita memperbanyak amalan-amalan yang dapat membantu saudara-saudara muslim yang sekarang tidak diuntungkan oleh keadaan. Dengan memperbanyak sadokah, zakat, infaq dan lain-lain. Begitu pulu sangat diharapkan peran para pengambil kebijakan dinegeri ini untuk lebih memperhatikan masyarakat bukannnya menuntut berbagai kemewahan seperti dana aspirasi, rumah aspirasi dan bahkan nantinya salon aspirasi dan pijat aspirasi serta lainnya yang mengatasnamakan aspirasi rakyat. Dan sekali lagi bulan ini hanyalah awal untuk itu, keberhasilan sesungguhnya ketika hal tersebut bukan hanya terjadi pada saat bulan puasa tetapi harus berlanjut sampai akhir zaman. Semoga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar